Untitled design2.png

        Pertemuan Galuh dan Ardhana sebenarnya tidak terjadi dengan cara yang istimewa. Tidak ada perkenalan dramatis ataupun kejadian yang langsung membuat keduanya tertarik satu sama lain. Mereka hanya kebetulan berada di tempat yang sama cukup sering.        

        Cafe milik Galuh berada tidak jauh dari creative studio tempat Ardhana bekerja bersama beberapa rekannya. Letaknya bahkan cukup dekat untuk membuat cafe tersebut menjadi salah satu tempat yang sering didatangi Ardhana, terutama ketika ia membutuhkan suasana berbeda dari studio atau sekadar ingin beristirahat sejenak dari pekerjaannya.

        Ardhana bukan penggemar kopi. Karena itu, pesanannya hampir selalu sama: minuman cokelat. Awalnya Galuh hanya mengenalnya sebagai pelanggan yang datang sendirian, memesan minuman cokelat, lalu duduk di salah satu sudut cafe dengan laptop atau kameranya. Tidak banyak bicara, tidak terlalu memperhatikan sekitar, dan hampir selalu terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.

        Sebaliknya, Ardhana mengenal Galuh sebagai pemilik cafe yang cukup mudah diajak bicara. Galuh beberapa kali menyapanya ketika mengantar pesanan, sesekali bertanya tentang pekerjaannya, atau sekadar mengomentari kebiasaannya yang selalu memesan hal yang sama. Ardhana yang pada awalnya hanya menjawab seperlunya perlahan mulai terbiasa dengan kehadiran Galuh.       

        Pertemuan mereka kemudian menjadi semakin sering.

        Ardhana mulai datang bukan hanya ketika membutuhkan tempat untuk bekerja. Kadang ia datang untuk mengambil minuman sebelum kembali ke studio, kadang duduk sebentar setelah hari yang panjang, dan sesekali hanya karena ingin menikmati cokelat tanpa harus memikirkan pekerjaannya untuk beberapa saat.

        Galuh juga mulai mengenali kebiasaannya. Ia tahu kapan Ardhana sedang ingin bekerja dan tidak ingin diganggu, tahu kapan laki-laki itu sedang terlalu lelah untuk banyak bicara, bahkan tahu minuman apa yang biasanya ia pesan tanpa perlu bertanya lagi.

        Tanpa mereka sadari, percakapan singkat yang awalnya hanya sebatas pelanggan dan pemilik cafe mulai berubah menjadi obrolan yang lebih personal. Dari pekerjaan, mereka mulai membicarakan hal-hal sederhana seperti fotografi, makanan, tempat yang ingin dikunjungi, sampai kehidupan mereka di Surabaya.

        Ardhana yang biasanya cukup tertutup perlahan mulai membuka lebih banyak cerita kepada Galuh. Bukan karena Galuh memaksanya untuk bercerita, melainkan karena berada di dekat Galuh terasa mudah. Tidak ada tuntutan untuk selalu menjelaskan dirinya sendiri dan tidak ada keharusan untuk terlihat baik-baik saja.

        Sementara itu, Galuh mulai menyadari bahwa Ardhana ternyata tidak sedingin kesan pertamanya. Di balik sifatnya yang tenang dan terkadang keras kepala, Ardhana cukup perhatian dengan caranya sendiri. Ia mungkin bukan tipe yang banyak mengatakan sesuatu, tetapi selalu ingat hal-hal kecil yang pernah Galuh ceritakan.

        Kedekatan mereka akhirnya berkembang tanpa pernah benar-benar dibicarakan. Ardhana mulai mencari Galuh ketika datang ke cafe, sementara Galuh mulai merasa ada sesuatu yang kurang ketika beberapa hari berlalu tanpa melihatnya.

        Sampai suatu hari, Ardhana menyadari bahwa ia tidak lagi datang ke cafe hanya karena cokelat. Dan Galuh mungkin sudah menyadari hal itu lebih dulu.

        Hubungan mereka kemudian berjalan perlahan. Tidak ada pengakuan yang terlalu dramatis. Tidak ada perubahan mendadak dari teman menjadi pasangan. Hanya dua orang yang sudah terlalu terbiasa saling mencari hingga akhirnya menyadari bahwa kedekatan mereka telah berubah menjadi sesuatu yang lebih.

        Ardhana akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada Galuh dengan caranya sendiri—sederhana, tanpa banyak kata, tetapi cukup jelas untuk membuat Galuh tahu bahwa kali ini ia tidak sedang sekadar menjadi pelanggan tetap di cafe miliknya.

        Sejak saat itu, Ardhana tidak lagi datang ke cafe hanya untuk mencari tempat bekerja atau memesan cokelat.

        Ardhana datang untuk menemui Galuh.